Jumat, 04 September 2015

SITU CIBEUREUM TAMANSARI KOTA TASIKMALAYA, DAN TRADISI MENANGKAP IKAN BERJAMAAH

























Selain Situ Gede di kecamatan Mangkubumi, kota Tasikmalaya juga mempunyai aset atau potensi wisata situ lainnya, walaupun pengelolaannya sebagian besar masih di bawah BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Air) Propinsi Jawa Barat. Diantaranya Situ Cibeureum, kecamatan Tamansari kota Tasikmalaya. Mungkin dinamakan situ Cibeureum karena dahulu masuk wilayah kecamatan Cibeureum, yang sekarang telah dimekarkan menjadi tiga kecamatan.
Kondisinya saat ini, di musim kemarau airnya surut, tapi genangannya masih terlihat, tidak seperti situ Gede yang betul betul kering nyaris tidak berair. Cukup luas mata dimanjakan, hiliwir angin pun cukup sejuk menyambut dari rimbunan pohon yang tumbuh di sekitar situ. Sepanjang pinggirannya telah dibenteng dengan tembok. Pun tidak ada lagi pohon kirai di tengah tengah situ, hanya ada beberapa tersisa di pinggiran situ. Persisi seperti situ Sanghyang Cibalanarik kabupaten Tasikmalaya.
Walaupun musim kemarau dan airnya surut, penduduk masih memanfaatkannya untuk mengais rejeki dengan menangkap ikan, menggunakan berbagai alat, seperti pancing, jala, sair dan lain – lainnya. Ikan mujair adalah ikan yang masih banyak didapat di situ Cibeureum. Kata seorang Bapak Aki penduduk dari kampung Sangkali, tidak jauh dari situ Cibeureum, biasanya sekali menjala saat ini sekitar tiga kilo ikan mujair masih dapat. Bahkan dahulu sebelum pinggirnya ditembok bukan hanya ikan mujair yang ada, ikan-ikan lain pun banyak.
Ada hal unik dilakukan masyarakat sekitar situ Cibeureum, yaitu menangkap ikan ramai ramai setiap hari jumat, selepas sholat jumat. Bukan hanya penduduk sekitar situ saja yang datang dan ikut menangkap ikan, tetapi dari luar daerah pun banyak yang datang untuk ikut mengais rejeki menangkap ikan. Hanya sayang ada sebagian oknum masyarakat yang menangkap ikan dengan menggunakan racun tawas.
Selain itu tidak adanya papan penunjuk jalan juga menjadi kesulitan lain bagi pengunjung dari luar untuk menikmati sisi lain keindahan situ Cibeureum.

Minggu, 23 Agustus 2015

SASAKALA KUDA DEPA

Di beberapa daerah di negeri ini banyak nama tempat yang terkadang membuat dahi kita mengernyit, tidak jarang tersenyum serasa lucu mendengarnya.
Di kecamatan Sukahening kabupaten Tasikmalaya ada nama kampung sekaligus nama sebuah desa yaitu kampung Kuda Depa desa Kuda Depa. Kalau dalam bahasa Indonesia mungkin kuda tiarap atau tengkurap.
Setidaknya ada cerita masyarakat tentang asal usul adanya nama kampung Kuda Depa.
Dahulu sebelum alat tranportasi dan akses jalan semudah dan semoderen sekarang, untuk menuju ke kota kecamatan yaitu ke Cisayong dengan letak geografis berada di pegunungan alat tranportasi satu satunya selain berjalan kaki adalah menunggang kuda tanpa gerobak, delman, andong atau lainnya. Makanya banyak penduduk yang memelihara kuda.
Versi pertama tentang asal usul nama Kuda Depa katanya pada jaman gerombolan, untuk melindungi kampung dari serangan gerombolan, maka pada malam hari dimana biasanya gerombolan merajah kampung, maka kuda kuda tersebut dilepas untuk berlari kesana kemari seolah olah menunjukan ada tentara yang berjaga atau berpatroli sehingga gerombolan tidak jadi menyerang kampung. Adapun kuda kuda yang berlarian tersebut karena kelelahan akhirnya depa semua beristirahat.
Cerita kedua, pada jaman penjajahan Belanda, ada acara hiburan di tepi gunung di kampung Balandongan. Para Meneer dan menak yang ingin melihat hiburan tersebut menyimpan kudanya di satu tempat, karena kuda kuda tunggangannya tidak bisa dibawa atau sampai ke tempat hiburan.
Ketika para meneer dan menak menikmati hiburan, kuda kuda dan penjagannya diserang pejuang dan masyarakat sehingga mati semua. Maka semenjak itu dinamai Kuda Depa.
Sampai sekarang bambu bekas menambatkan kuda kuda tersebut masih ada dan jadi rimbunan bambu/awi temen yang tidak pernah ditebang masyarakat.
Tentang kebenaran cerita tersebut, wallohu a'lam.

Jumat, 21 Agustus 2015

SITU SANGHYANG HILANGNYA SEBUAH LEGENDA

Masih seputaran situ Sanghyang Cibalanarik kabupaten Tasikmalaya. Dahulu situ ini lebat ditumbuhi pohon kirai, kita tidak dapat melihat satu tepi ke tepi seberangnya, karena tertutupi rimbun dan padatnya pohon kirai. Tetapi tidak lagi, hamaparan luasnya dapat kita nikmati dan jelajahi sepuasnya, bahkan kita dapat menyetubuhinya dengan telanjang melalui kayuhan rakit penduduk setempat.
Banyak cerita berbalut mistis dengan keberadaan pohon kirai tersebut, selain kisah budak buncir (sebagaimana situ situ yang lain) sebagai legenda terbentuknya ssebuah situ atau telaga.
Diantara cerita mistis yang turun temurun bahasa pitutur dari mulut ke mulut adalah, bahwa pohon kirai tersebut suka berpindah tempat. Padahal menurut logika dengan kedalaman situ antara 15 meter sampai 17 meter hal itu sangat memungkinkan karena pohon kirai tumbuh mengambang, akarnya tidak sampai ke dasar situ.
Ada juga cerita, bahwa sewktu waktu rimbunan pohon kirai itu akan mengeluarkan suara suara aneh sebagai pertanda akan terjadi peristiwa besar baik lokal maupun nasional, seperti halnya kejadian gunung galunggung meletus. ini juga bila ditelaah bisa jadi karena pergerakan gempa bumi menyebabkan batang poho kirai beradu.
Yang pasti setelah pohon kirai tidak ada, bukan hanya legendanya yang hilang, tapi mata pencaharian sebagian masyarakat yang memakai pelepah kirai sebagai bahan kerajinan lampit dan kere.tirai ikut hilang karena ketiadaan bahan baku.







Rabu, 19 Agustus 2015

MEMPERINGATI HUT RI KE 70 DI MAKAM PAHLAWAN LINGKUNGAN HIDUP YANG TERLUPAKAN

Beragam cara dilakukan untuk memperingati hari kemerdekaan, ada yang mengikuti upacara dan arak arakan karnaval budaya, mengikuti aneka perlombaan di kampung atau komplek, ada yang di puncak gunung, di tepi laut, dan lain lain.
Penulis sendiri pada tanggal 17 Agustus 2015 kemarin, bersama beberapa orang komunitas TTD (Tasikmalaja Tempo Doeloe), memperingatinya dengan berziarah ke makam Ema Eroh dan bersilaturahmi dengan keluarganya yang masih ada.
Mungkin ada yang masih ingat dan mengenal sosok Ema Eroh. Betul, beliau wanita tangguh dari kampung Pasir Kadu desa Santana Mekar kecamatan Cisayong kabupaten Tasikmalaya, yang dengan kegigihannya selama dua setengah tahun menggali parit/selokan di bibir jurang untuk mengalirkan airnya ke (asalnya ke sawah beliau), ketika sudah mengalir bukan hanya sawah beliau yang terairi tapi berpuluh hektar. Beliau hanya bersenjatakan belincong dan cangkul.
Perjuangan dan hasil karya beliau dianugrahi KALPATARU oleh Presiden Soeharto saat itu. Dengannya bukan hanya nama beliau yang harum, tapi Tasikmalaya pun semakin dikenal.
Kini setelah sebelas tahun beliau meninggal (Ema Eroh wafat pada tahun 2004), warisan yang tersisa di rumah beliau, adalah :
  1. Parit/selokan yang terbengkalai
  2. Makam dan nisan beliau
  3. satu buah bingkai foto dengan bupati Adang Roesman Alm.
  4. Satu buah poster pementasan seni yang mengangkat tema dan judul tentang beliau.
Dimanakah KALPATARUnya berada ?
Entah dimana Kalpataru sebagai anugrah perjuangan Ema Eroh berada atau disimpannya, keluarganya (Suami dan anak-anaknya) pun tidak mengetahui dengan pasti. Hanya katanya diambil oleh pemerintahan 




Senin, 04 Mei 2015

PATUNG KALPATARU JEUNG CURUG BATU BLEK



Salila ieu mungkin mun urang ngadon ulin, olah raga jeung sajabana pasti teu pati mireungeuh jeung teu pati apal patung naon anu aya ditengah tengahna.
Terus naon hubunganna jeung Curug Batu Blek? Bari kalolobaan diantara urang sarua teu apal dimana jeung kumaha Batu Blek teh.
Muka sababaraha catetan anu teu pati kumplit, hubungan patung ditengah alun alun tegesna patung Kalapataru (Ema Eroh sareng Bapa Abdul Rojak) khususna Ema Eroh anu kantos dileler Kalpataru (penghargaan perintis Lingkungan Hidup ti Presiden Suharto alm).
Ema Eroh anu dibantu ku salapan belas pamuda di lemburna, nugar pasir / gunung pikeun ngalirkeun cai ka sawah di lemburna. Saparantos nugar sababaraha taun nu awalna dianggap mahiwal, pamohalan, malah teu saeutik nu nyangka owah, ahirna cai bisa ngalir, lain bae keur lembur Ema Eroh, bahkan ka indihiang, Cisayong, Sukaratu oge nepi.
Tah sumber cai anu dialirkeun ku Ema Eroh nyaeta ti Curug Blek.
Cag.
Dicutat tina sababarah tulisan tina sababaraha blog/situs internet (pangoreksikeun bilih aya kasalahan)
foto dokumen pribadi.

Senin, 23 Februari 2015

CURUG KEDUNG LUMPANG (LISUNG KECIL) KEDUNG WULUH PADAHERANG PANGANDARAN·



























SEBETULNYA TIDAK ADA DALAM AGENDA PERJALANAN LIBURAN KALI INI. TAPI RASA PENASARAN ATAS INFORMASI YANG DITERIMA DARI ADIK SEPUPU TENTANG SEBUAH CURUG DI BELAKANG RUMAH AKHIRNYA SETELAH MELIHAT WAKTU DIRASA CUKUP UNTUK SEKEDAR MELIHAT AWAL , MAKA PAGI PAGI SAMBIL PERSIAPAN PULANG KE TASIK DIANTAR SAMA SANG PAMAN SAMPAI JUGA DI CURUG KEDUNG LUMPANG.
ARTI LUMPANG SENDIRI ADALAH LISUNG KECIL/TEMPAT MENUMBUK PADI.
CURUG KEDUNG LUMPANG BERADA DI ALIRAN SUNGAI CILALAY KARENA SUMBER AIRNYA MELEWATI GUA LALAY/KELELAWAR. WALAU SAYANG KE GUA LALAYNYA BELUM BISA DIKUNJUNGI KARENA KETERBATASAN WAKTU.
MENURUT CERITA PAMAN INI HANYA CURUG KECIL KARENA DIATAS/DI HULU MASIH ADA CURUG YANG TINGGINNYA ANTARA 80 SAMPAI 100 METER (WUUUIIIH KEBAYANG INDAHNYA KALO DIKUNJUNGI) THE NEXT HAHAHAHA...
SELAIN ITU ADA JUGA TEMPAT YANG BISA (HARUS) DI KUNJUNG I YAKNI GUA LALAY DAN GUA TUMANG, BAHKAN ADA SITU/TELAGANYA JUGA, NAMANYA SITU GEDE MIRIP SITU YANG ADA DI KOTA TASIKMALAYA.
SELAIN ITU ADA JUGA MATA AIR PANAS/ CIPANAS DI PINGGIR SUNGAI DAN DEKAT BALAI DESA, YANG MEMUNGKINKAN BAHWA DAERAH ITU TERMASUK GUNUNG BERAPI.
AIR DI CILALAY INI JUGA DIMANFAATKAN SEBAGAI SUMBER PDAM KECAMATAN PADAHERANG DAN KEDUNG WULUH SEKITARNYA.