Selasa, 22 September 2015

Situs Lingga Yoni, peninggalan Jaman Hindu di Tasikmalaya #SonoKaTasik

Tasikmalaya yang lebih dikenal sebagai daerah atau basis islami, bahkan untuk sebagian orang menyebutnya sebagai Kota Santri, karena mungkin banyaknya pesantren dan santrinya. Ternyata masih menyimpan peninggalan jaman hindu, selain situs Batu Sanghyang dan geger sunten, juga Walahir, ada juga situs Lingga Yoni.
Lokasi Situs Lingga Yoni berada di gunung Kabuyutan (begitu masyarakat menyebutnya) blok Sukamaju Kidul, Indihiang, Kota Tasikmalaya, tidak jauh dari terminal tipe A Indihiang.
Seperti situs situs lain di nusantara, keberadaan situs selalu diberi pemanis cerita mistis, diantaranya, sering terdengar suara gamelan, atau seolah ada yang sedang pertunjukan wayang.
Gunung Kabuyutan sendiri, adalah gunung atau bukit yang keukeuh dipertahankan oleh ahli waris, Abah Suhendi seorang pensiunan polisi, untuk tidak dijual ke pihak pengembang. Sementara gunung gunung disekitarnya sudah mulai rata digerus.
Untuk menuju situs Lingga Yoni sebetulnya tidak terlalu sulit, hanya karena korangnya sosialisasi dan agak tersembunyi, maka banyak orang yang tidak tahu. “Ah masa sih.” banyak reaksi heran dari orang orang yang diberi tahu.
Dari semua arah dapat menjadikan terminal tipe A sebagai patokan, kalau belum paham juga setelah sampai di seputaran terminal, tanyakan saja gunung Kabuyutan, kalo bertanya Lingga Yoni, mungkin banyak yang tidak tahu.
Kalau dari arah Garut Singaparna, mudahnya sekarang via jalan Mangin (Mangkubumi Indihiang), sebelum sampai ke terminal, gunung kabuyutannya akan terlihat.










Selasa, 08 September 2015

OBROLAN DI SISI SITU CIBEUREUM

Sebut bae Bapa Aki, lemburna di Sangkali tukangeun Puskesmas Sangkali Tamansari, gawena cenah ngan ngaheurap mapay mapay situ anu aya di kota Tasik.
Harita ka Situ Cibeureum, tos ti Situ Malingping, ngan teu nepi da jalanna keur diaspal dihadean, cenah ngaspalna karek nepikana tanjakan, teuing palebah mana pasna, da jeung eunyana jalan ka situ Malingping mah kurang hade, ari lain disebut goreng mah.
Sakali ngaheurap atawa ngecrik rata rata sok meunang tilu kiloan mah, lumayan keur jajan incu di imah, bari lung ngalungkeun kecrikna, teu gurung gusuh dibetot rada dianteup heula semu geus yakin aya eusian. da samemeh ngalungkeun kecrikna si Bapa Aki ngomong "tuh tingali aya anak jaer." Weleh teu katempo ku kuring mah najan eunya make kaca panon.
Bener we basa ditarik lalaunan, teu kurang ti lima siki lauk jaer adug lajer jero kecrik, katambah lauk sapu milu hayang ka darat, tapi lauk sapuna mah dialungkeun deui ka tengah.
"Baheula mah samemeh sisi sisina ditembok, lain bae lauk jaer, nileum, bogo, jeung anu lainna oge," Ceuk Si Bapa Aki bari ngaluarkeun lauk jaer tina kecrik.
"Kuduna poe jumaah kadieuna, sok rame anu ngarala lauk sanggeus jumaahan, malah ti Manonjaya oge sok aya anu datang milu ngala lauk. Tara kurang ti dua kintal sigana poe jumaah lauk kaangkat. Ngan hanjakal sok aya anu make portas ngalana, lain dilarang anu kitu teh?"
"Mun di Situ Gede caina seket, can lila ancrub oge suku gancang peurih, siga melekpek, mun didieu mah di situ Cibeureum tiis da dasarna leutak lain keusik siga situ Gede."
"Tah anu jero mah situ Malingping, katempona siga anu saat jeung deet, padahal leuwih jero. Ngan didinya mah kudu mayar dua puluh rebu ka si Anu, mun hayang ngecrik teh."




Jumat, 04 September 2015

SITU CIBEUREUM TAMANSARI KOTA TASIKMALAYA, DAN TRADISI MENANGKAP IKAN BERJAMAAH

























Selain Situ Gede di kecamatan Mangkubumi, kota Tasikmalaya juga mempunyai aset atau potensi wisata situ lainnya, walaupun pengelolaannya sebagian besar masih di bawah BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Air) Propinsi Jawa Barat. Diantaranya Situ Cibeureum, kecamatan Tamansari kota Tasikmalaya. Mungkin dinamakan situ Cibeureum karena dahulu masuk wilayah kecamatan Cibeureum, yang sekarang telah dimekarkan menjadi tiga kecamatan.
Kondisinya saat ini, di musim kemarau airnya surut, tapi genangannya masih terlihat, tidak seperti situ Gede yang betul betul kering nyaris tidak berair. Cukup luas mata dimanjakan, hiliwir angin pun cukup sejuk menyambut dari rimbunan pohon yang tumbuh di sekitar situ. Sepanjang pinggirannya telah dibenteng dengan tembok. Pun tidak ada lagi pohon kirai di tengah tengah situ, hanya ada beberapa tersisa di pinggiran situ. Persisi seperti situ Sanghyang Cibalanarik kabupaten Tasikmalaya.
Walaupun musim kemarau dan airnya surut, penduduk masih memanfaatkannya untuk mengais rejeki dengan menangkap ikan, menggunakan berbagai alat, seperti pancing, jala, sair dan lain – lainnya. Ikan mujair adalah ikan yang masih banyak didapat di situ Cibeureum. Kata seorang Bapak Aki penduduk dari kampung Sangkali, tidak jauh dari situ Cibeureum, biasanya sekali menjala saat ini sekitar tiga kilo ikan mujair masih dapat. Bahkan dahulu sebelum pinggirnya ditembok bukan hanya ikan mujair yang ada, ikan-ikan lain pun banyak.
Ada hal unik dilakukan masyarakat sekitar situ Cibeureum, yaitu menangkap ikan ramai ramai setiap hari jumat, selepas sholat jumat. Bukan hanya penduduk sekitar situ saja yang datang dan ikut menangkap ikan, tetapi dari luar daerah pun banyak yang datang untuk ikut mengais rejeki menangkap ikan. Hanya sayang ada sebagian oknum masyarakat yang menangkap ikan dengan menggunakan racun tawas.
Selain itu tidak adanya papan penunjuk jalan juga menjadi kesulitan lain bagi pengunjung dari luar untuk menikmati sisi lain keindahan situ Cibeureum.

Minggu, 23 Agustus 2015

SASAKALA KUDA DEPA

Di beberapa daerah di negeri ini banyak nama tempat yang terkadang membuat dahi kita mengernyit, tidak jarang tersenyum serasa lucu mendengarnya.
Di kecamatan Sukahening kabupaten Tasikmalaya ada nama kampung sekaligus nama sebuah desa yaitu kampung Kuda Depa desa Kuda Depa. Kalau dalam bahasa Indonesia mungkin kuda tiarap atau tengkurap.
Setidaknya ada cerita masyarakat tentang asal usul adanya nama kampung Kuda Depa.
Dahulu sebelum alat tranportasi dan akses jalan semudah dan semoderen sekarang, untuk menuju ke kota kecamatan yaitu ke Cisayong dengan letak geografis berada di pegunungan alat tranportasi satu satunya selain berjalan kaki adalah menunggang kuda tanpa gerobak, delman, andong atau lainnya. Makanya banyak penduduk yang memelihara kuda.
Versi pertama tentang asal usul nama Kuda Depa katanya pada jaman gerombolan, untuk melindungi kampung dari serangan gerombolan, maka pada malam hari dimana biasanya gerombolan merajah kampung, maka kuda kuda tersebut dilepas untuk berlari kesana kemari seolah olah menunjukan ada tentara yang berjaga atau berpatroli sehingga gerombolan tidak jadi menyerang kampung. Adapun kuda kuda yang berlarian tersebut karena kelelahan akhirnya depa semua beristirahat.
Cerita kedua, pada jaman penjajahan Belanda, ada acara hiburan di tepi gunung di kampung Balandongan. Para Meneer dan menak yang ingin melihat hiburan tersebut menyimpan kudanya di satu tempat, karena kuda kuda tunggangannya tidak bisa dibawa atau sampai ke tempat hiburan.
Ketika para meneer dan menak menikmati hiburan, kuda kuda dan penjagannya diserang pejuang dan masyarakat sehingga mati semua. Maka semenjak itu dinamai Kuda Depa.
Sampai sekarang bambu bekas menambatkan kuda kuda tersebut masih ada dan jadi rimbunan bambu/awi temen yang tidak pernah ditebang masyarakat.
Tentang kebenaran cerita tersebut, wallohu a'lam.

Jumat, 21 Agustus 2015

SITU SANGHYANG HILANGNYA SEBUAH LEGENDA

Masih seputaran situ Sanghyang Cibalanarik kabupaten Tasikmalaya. Dahulu situ ini lebat ditumbuhi pohon kirai, kita tidak dapat melihat satu tepi ke tepi seberangnya, karena tertutupi rimbun dan padatnya pohon kirai. Tetapi tidak lagi, hamaparan luasnya dapat kita nikmati dan jelajahi sepuasnya, bahkan kita dapat menyetubuhinya dengan telanjang melalui kayuhan rakit penduduk setempat.
Banyak cerita berbalut mistis dengan keberadaan pohon kirai tersebut, selain kisah budak buncir (sebagaimana situ situ yang lain) sebagai legenda terbentuknya ssebuah situ atau telaga.
Diantara cerita mistis yang turun temurun bahasa pitutur dari mulut ke mulut adalah, bahwa pohon kirai tersebut suka berpindah tempat. Padahal menurut logika dengan kedalaman situ antara 15 meter sampai 17 meter hal itu sangat memungkinkan karena pohon kirai tumbuh mengambang, akarnya tidak sampai ke dasar situ.
Ada juga cerita, bahwa sewktu waktu rimbunan pohon kirai itu akan mengeluarkan suara suara aneh sebagai pertanda akan terjadi peristiwa besar baik lokal maupun nasional, seperti halnya kejadian gunung galunggung meletus. ini juga bila ditelaah bisa jadi karena pergerakan gempa bumi menyebabkan batang poho kirai beradu.
Yang pasti setelah pohon kirai tidak ada, bukan hanya legendanya yang hilang, tapi mata pencaharian sebagian masyarakat yang memakai pelepah kirai sebagai bahan kerajinan lampit dan kere.tirai ikut hilang karena ketiadaan bahan baku.







Rabu, 19 Agustus 2015

MEMPERINGATI HUT RI KE 70 DI MAKAM PAHLAWAN LINGKUNGAN HIDUP YANG TERLUPAKAN

Beragam cara dilakukan untuk memperingati hari kemerdekaan, ada yang mengikuti upacara dan arak arakan karnaval budaya, mengikuti aneka perlombaan di kampung atau komplek, ada yang di puncak gunung, di tepi laut, dan lain lain.
Penulis sendiri pada tanggal 17 Agustus 2015 kemarin, bersama beberapa orang komunitas TTD (Tasikmalaja Tempo Doeloe), memperingatinya dengan berziarah ke makam Ema Eroh dan bersilaturahmi dengan keluarganya yang masih ada.
Mungkin ada yang masih ingat dan mengenal sosok Ema Eroh. Betul, beliau wanita tangguh dari kampung Pasir Kadu desa Santana Mekar kecamatan Cisayong kabupaten Tasikmalaya, yang dengan kegigihannya selama dua setengah tahun menggali parit/selokan di bibir jurang untuk mengalirkan airnya ke (asalnya ke sawah beliau), ketika sudah mengalir bukan hanya sawah beliau yang terairi tapi berpuluh hektar. Beliau hanya bersenjatakan belincong dan cangkul.
Perjuangan dan hasil karya beliau dianugrahi KALPATARU oleh Presiden Soeharto saat itu. Dengannya bukan hanya nama beliau yang harum, tapi Tasikmalaya pun semakin dikenal.
Kini setelah sebelas tahun beliau meninggal (Ema Eroh wafat pada tahun 2004), warisan yang tersisa di rumah beliau, adalah :
  1. Parit/selokan yang terbengkalai
  2. Makam dan nisan beliau
  3. satu buah bingkai foto dengan bupati Adang Roesman Alm.
  4. Satu buah poster pementasan seni yang mengangkat tema dan judul tentang beliau.
Dimanakah KALPATARUnya berada ?
Entah dimana Kalpataru sebagai anugrah perjuangan Ema Eroh berada atau disimpannya, keluarganya (Suami dan anak-anaknya) pun tidak mengetahui dengan pasti. Hanya katanya diambil oleh pemerintahan